Doa berbuka puasa yang shahih dan waktu membacanya setelah …

Doa berbuka puasa yang shahih terdapat dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah” artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah” (HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

Adapun do’a berbuka puasa yang tersebar dan populer di tengah-tengah kaum muslimin yaitu,

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka.”

Riwayat di atas dikeluarkan oleh Abu Daud dalam sunannya no. 2358, dari Mu’adz bin Zuhroh. Mu’adz adalah seorang tabi’in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus. Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if. (Lihat Irwaul Gholil, 4/38).

Hadits semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath Thobroni dari Anas bin Malik. Namun sanadnya terdapat perowi dho’if yaitu Daud bin Az Zibriqon, di adalah seorang perowi matruk (yang dituduh berdusta). Berarti dari riwayat ini juga dho’if. Syaikh Al Albani pun mengatakan riwayat ini dho’if. (Lihat Irwaul Gholil, 4/37-38).

Di antara ulama yang mendho’ifkan hadits semacam ini adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. (Lihat Zaadul Ma’ad, 2/45).

Kesimpulannya, do’a “Allahumma laka shumtu …” berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan [Rumaysho.com].

Doa berbuka puasa yang shahih dan waktu membacanya

Lalu kapankah waktu yang tepat membaca doa berbuka puasa yang shahih ini diucapkan?

Waktu membaca doa berbuka puasa yang shahih

Dilihat dari arti doa di atas, dzahir menunjukkan bahwa doa ini dibaca setelah orang yang berpuasa itu berbuka. Umumnya doa terkait dengan perbuatan tertentu, sehingga dibaca sebelum melakukan perbuatan tersebut.

Contohnya doa makan, dibaca sebelum makan, doa masuk toilet dibaca sebelum masuk toilet, dst. Lalu apakah doa berbuka puasa juga berlaku seperti demikian?

Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan:

لكن ورد دعاء عن النبي صلى الله عليه وسلم لو صح فإنه يكون بعد الإفطار وهو : ” ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله ” فهذا لا يكون إلا بعد الفطر

“Hanya saja, terdapat doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika doa ini shahih, bahwa doa ini dibaca setelah berbuka. Yaitu doa: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst. doa ini tidak dibaca kecuali setelah selesai berbuka.” (Al-Liqa As-Syahri, no. 8, dinukil dari Islamqa.com). Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 7428.

Oleh karena itu urutan yang tepat untuk doa berbuka puasa yang shahih seperti yang saya kutip dari penjelasan ustadz Amni Nur Baits pada artikel Konsutasi Syariah adalah sebagai berikut:

  1. Membaca basmalah
  2. Mulai berbuka dengan makan kurma atau minum
  3. Membaca doa berbuka: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst.

Demikianlah doa berbuka puasa yang shahih dan urutannya yang telah terlupakan oleh sebagian kaum muslimin terutama di Indonesia.

Sebelum berbuka kita disunnahkan membaca doa apapun yang diinginkan. Baik terkait kehidupan dunia maupun akhirat. Karena waktu menjelang berbuka adalah waktu yang paling mustajab dikabulkannya doa.

Bantu SHARE. Raih pahala jariyah Anda...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

91 − 81 =